Tasawuf

Wahdatul Wujud Bukan Pantheisme

Oleh: Syah Reza*

Istilah wahdat al-wujud sebenarnya tidak menjadi pembahasan serius dalam tradisi tasawuf. Apalagi dikalangan pengamal ilmu tariqah istilah tersebut cenderung dihindari untuk dibahas. Namun, konsep wahdat al-wujud menjadi familiar ketika kalangan intelektual Barat mulai menaruh perhatian serius pada kajian agama-agama (religion studies) khususnya Islamic studies sejak abad 18 M. Selain Teologi dan filsafat Islam, dimensi Tasawuf (Islamic Mystisism) adalah salah satu yang paling diminati oleh sarjana Barat terutama yang berlatar belakang ilmu filsafat dan oriental studies. Alasannya, karena dimensi metafisika yang terkandung dalam tradisi tasawuf dianggap suatu misteri yang sangat rumit dipahami dan perlu diteliti.

Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimention of Islam mengakui rumitnya menyelami kajian tersebut. Ia berkesimpulan bahwa, seorang sarjana Barat ketika dihadapkan dengan literatur Islam seperti takjubnya ia melihat hamparan taman yang indah yang berada di sepanjang pegunungan. Kemudian ia menulis dan menyimpukan keindahan tersebut. Padahal yang ia lihat adalah keindahan yang berada diluar, bukan keindahan hakiki -yang berada dibalik fenomenana- yang melebihi apa yang disaksikan secara kasat mata. Ini adalah pengakuan seorang sarjana barat yang secara tidak langsung menolak otoritas diri mereka sendiri ketika mengkaji Islam. Sekalipun demikian, hasil kajian sarjana barat justru masih dijadikan referensi utama yang otoritatif dalam kajian islam dibandingkan intelektual islam yang otoritatif dibidangnya.

Tak dapat dihindari berbagai penafsiran muncul. Ada yang mengatakan bahwa wahdat al-wujud adalah panteism (‘Tuhan menyatu dengan alam’). Wahdat al-wujud berasal dari doktrin trinitas agama nasrani. Wahdat al-wujud adalah spirit pluralisme agama dan banyak penafsiran lainnya. Jika penafsiran demikian dipakai dalam keilmuan Islam, maka bisa berakibat pada kerancuan terminologis yang merusak konsep penting dalam tradisi tasawuf, yang imbasnya secara tidak langsung merusak bangunan aqidah Islam.

Beragamnya penafsiran keliru tentang wahdat al-wujud tak terlepas dari sistem liberalisasi pendidikan yang mengabaikan filterisasi terhadap referensi yang tidak otoritatif. Sehingga masyarakat bingung ketika dihadapkan dengan istilah tersebut. Penulis sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar mengenai terma tersebut, apa itu wahdatul wujud? dan apakah paham ini bertentangan dengan islam?


Istilah Wahdat al-Wujud

sufi-dancerKata wahdat al-wujud berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata wahdah ) وحدة) artinya ‘satu’ atau ‘kesatuan’ dan al-wujud (الوجود ) artinya ‘wujud’ atau ‘ada’. Diterjemahkan kesatuan wujud (yang Ada). Al-wujud menggunakan isim ma’rifah yang bermakna wujud yang sudah jelas. Artinya al-wujud yang dimaksud disini adalah Allah. Makna ini disepakati oleh Para ulama sufi. Kata al-wujud hanya milik Allah dan dinisbahkan hanya kepadaNya sebagai wajib al-wujud dan pemilik segala wujud yang ada. Kata al-wujud tidak bisa dilekatkan pada makhluk, Karena makhluk itu bersifat sementara, dan wujudnya musnah ketika musnahnya alam.

Sedangkan, secara istilah wahdat al-wujud bisa diartikan yaitu kesatuan wujud (Allah) atau satu-satunya wujud hanyalah Allah. Jika dipahami secara detail, maka makna wahdatul wujud  hanya dapat dimengerti apabila pemahaman Tauhid sudah berada pada tingkatan khawwas.

Muncul pertanyaan, jika wujud itu hanya dinisbahkan kepada Allah, lalu bagaimana alam ini apakah tidak memiliki wujud? Dalam istilah mutakallim (ahli kalam) maupun kaum sufi menyebutkan bahwa wujud makhluk itu adalah wujud majazi (wujud sementara atau wujud yang dipinjamkan). Syamsuddin as-Sumatrani mengistilahkan makhluk sebagai wujud fana (wujud yang tiada). Karena wujud makhluk itu bukan wujud yang berdiri sendiri tetapi  bergantung pada dan membutuhkan wujud Allah. Maka tentu aneh jika ada manusia yang wujudnya dijadikan Allah tetapi dalam kehidupannya ia tidak membutuhkan Allah.

Oleh karena itu, definisi yang tepat untuk wahdat al-wujud adalah penafian seluruh wujud yang ada selain wujud Allah. Disini tidak bermakna bahwa semua wujud yang ada baik secara zahir atau bathin adalah wujud Allah, ini jelas keliru dan menyimpang dari aqidah yang lurus. Tetapi bermakna mengtauhidkan Allah dari wujud yang lain. Definisi demikian yang dimaksudkan oleh kalangan sufi yang dalam istilah Nuruddin ar-Raniry menyebutnya dengan wujudiyyah muwahhidah (paham wujud yang benar).

 

Bukan Panteisme

Banyak kalangan intelektual sering menyamakan Wahdat al-wujud dengan Pantheism yaitu menyatu atau meleburnya dua eksistensi (Tuhan dan Alam) menjadi satu. Pandangan pantheisme ini memiliki kemiripan dengan ajaran hulul ataupun ittihad yang ada dalam tradisi nasrani, yaitu Tuhan menyatu dalam diri Yesus, baik dari penyatuan sifat maupun Dzat. Tampaknya makna ini yang diambil oleh sarjana Barat dan kaum mendukung pluralisme ketika menafsirkan wahdat al-wujud. Pemahaman tersebut sangat ditentang keras oleh mayoritas ulama dan ahlus sufi sejak abad pertengahan karena dapat merusak aqidah.

Taqiyuddin Abu Bakr Al-Hishni dalam Kifayatul akhyar mengatakan bahwa, “kekufuran seorang yang berkeyakinan hulul dan ittihad (pantheism. pen) lebih buruk daripada kekufuran orang-orang Yahudi dan orang Nasrani. Kaum Yahudi menyekutukan Allah dengan mengatakan bahwa Uzair sebagai anak-Nya. Kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan mengatakan bahwa Isa dan Maryam sebagai tuhan anak dan tuhan ibu (ajaran trinitas). Sementara pengikut akidah hulul dan ittihad meyakini bahwa Allah menyatu dengan dzat-dzat makhlukNya.” Artinya Allah menyatu dengan banyak makhluk.

Bukti bahwa wahdat al-wujud tidak sama dengan pantheisme banyak ditulis oleh ulama sejak abad 12-17 M. Dua karya yang lengkap menjelaskan tentang wacana tersebut bisa dibaca dalam Idhah al-Maqshud min Wahdat al-Wujud karya Abdul Ghani An-Nabulusi dan Kifayatul Muhtajin ila masyrabil Muwahhidin Al-Qailin bi Wahdat al-Wujud karya Abdurrauf ibn Ali Al-Jawi Al-Fansuri. Dalam karya tersebut konsep wahdat al-wujud bukanlah panteisme, bahkan mereka menentang panteisme yang tidak berasal dari tradisi Islam.

Sahl At-Tustari mempertegas atas kesesatan faham tersebut dengan mengatakan bahwa dua dzat manusia (yang sama-sama makhluk saja)tidak mungkin dapat disatukan karena adanya perbedaan-perbedaan, apalagi dengan Tuhan, sangat mustahil. Keyakinan ittihad adalah sesuatu yang bathil dan tertolak secara syara’ juga secara logika. Oleh karenanya kesesatan akidah ini telah disepakati oleh para Nabi, para Wali, kaum sufi, para ulama dan seluruh orang Islam.

Sejatinya wahdat al-wujud adalah salah satu konsep penting dalam tasawuf yang diakui dalam tradisi Islam. Selama ini banyaknya penentangan terhadap paham tersebut dikarenakan banyaknya penafsiran yang keliru berkembang dikalangan masyarakat, yang membuat tasawuf dinilai negatif dan mendapat tuduhan bukan bagian dari ajaran Islam.

Padahal tasawuf adalah bagian dari bangunan Islam yang termuat pada hadist Jibril tentang arti Islam, Iman dan Ihsan. Maka, tasawuf disebut juga dengan ilmu Ihsan yang oleh Syed M. Naquib Al-Attas mendefinisikan tasawuf yaitu beramal syariat pada tingkatan Ihsan. Maka penting mengambil referensi ajaran islam dari karya ulama maupun intelektual islam yang otoritatif dibidangnya, agar terhindar dari penyimpangan makna. Dengan demikian, istilah dan ajaran Islam tidak mengalami penyimpangan. Wallahu’alam

 

 

*Penulis adalah Peneliti di Aceh Forum for the Study of Islamic Civilization (AFSIC), email: rezaaceh6587@gmail.com

 

Versi Lengkap di http://inpasonline.com/new/kontroversi-istilah-wahdatul-wujud/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s